Mohon mengisi form komentar...guna perkembangan Blog ini

Sabtu, 19 Februari 2011

Museum Kereta Api,Ambarawa,Jawa Tengah,Indonesia


Museum kereta api Ambarawa ini merupakan museum berteknologi kuno yang digunakan sebagai alat transportasi sejak sebelum kemerdekaan Indonesia sampai dengan tahun 1964. Di dalam museum ini terdapat 21 lokomotif uap yang berada di utara dan di barat museum, 5 lokomotif uap di depo dengan 3 diantaranya masih dapat beroperasi dengan baik. Selain itu terdapat beberapa alat-alat kuno seperti mesin hitung mesin ketik, pesawat telegram pesawat telepon, dan sebagainya.
Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomorB 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata.Kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. Selain koleksi-koleksi unik tadi, masih dapat disaksikan berbagai macam jenis lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.
Begitu memasuki bangunan bekas Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij atau Perusahaan Kereta Api Hindia-Belanda ini, kita dapat melihat suasana stasiun seperti tempo doeloe. Disana terdapat loket peron, kantor kepala stasiun, ruang tunggu, dan juga segala peralatan yang digunakan saat itu seperti alat komunikasi, alat pembolong tiket, topi masinis, stempel, mesin tik, jam kuno dan barang-barang lainnya dapat kita temui disana.

Selasa, 18 Januari 2011

Cafe Batavia,Jakarta



Cafe Batavia adalah sebuah tempat yang memiliki keunikan dan ciri khasnya sendiri. Didirikan pada tahun 1993, di dalam sebuah gedung tua bernuansa kolonial Belanda. Cafe Batavia telah dikunjungi oleh berbagai tamu dari mancanegara maupun dalam negeri. 
Bangunan yang diperkirakan berdiri antara tahun 1805 dan 1850 ini dulunya adalah tempat tinggal seorang pejabat pemerintahan Belanda yang bekerja di kantor pemerintahan yang berada tepat di depan bangunan ini, kantor pemerintahan itu sekarang menjadi Museum Fatahillah.
Hampir semua ruangan yang terdapat di Cafe Batavia masih menggunakan perlengkapan peninggalan pemiliknya di masa silam. Rata-rata perabot dan furniturnya terbuat dari kayu jati Jawa yang diproduksi pada akhir abad ke-19. Konsep bangunan Belanda terlihat dari lampu-lampu yang menghiasi pintu-pintu depan kafe. Satu hal lagi yang menarik dari Cafe Batavia adalah banyaknya frame foto yang tertempel di setiap dinding yang menempati lokasi di dua lantai.
Alunan musik jazz yang terus mengalun sendu seolah mendukung suasana klasik kafe yang khas dengan kanopi berwarna hijau ini. Khusus Kamis hingga Minggu, pengelola Cafe Batavia selalu memanjakan konsumennya dengan suguhan live music dari berbagai aliran.

Senin, 17 Januari 2011

Candi Borobudur,Magelang,Jawa Tengah



Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi atau abad ke-9. Candi Borobudur dibangun oleh para penganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Candi ini dibangun pada masa kejayaan dinasti Syailendra. Pendiri Candi Borobudur yaitu Raja Samaratungga yang berasal dari wangsa atau dinasti Syailendra. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar tahun 824 M dan selesai sekitar menjelang tahun 900-an Masehi pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani yang adalah putri dari Samaratungga. Sedangkan arsitek yang berjasa membangun candi ini menurut kisah turun-temurun bernama Gunadharma.
Arti nama Borobudur yaitu "biara di perbukitan", yang berasal dari kata "bara" (candi atau biara) dan "beduhur" (perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasaSansekerta. Karena itu, sesuai dengan arti nama Borobudur, maka tempat ini sejak dahulu digunakan sebagai tempat ibadat penganut Buddha.
Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah, sekitar 40 km dari Yogyakarta. Candi Borobudur memiliki 10 tingkat yang terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Di setiap tingkat terdapat beberapa stupa. Seluruhnya terdapat 72 stupa selain stupa utama. Di setiap stupa terdapat patung Buddha. Sepuluh tingkat menggambarkan filsafat Buddha yaitu sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha di nirwana. Kesempurnaan ini dilambangkan oleh stupa utama di tingkat paling atas. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala yang menggambarkan kosmologi Buddha dan cara berpikir manusia.

Taman Buah Mekarsari,Cileungsi


Taman wisata ini berlokasi di Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor,Jawa Barat. Untuk menuju ke lokasi ini bisa dicapai dengan angkutan umum dari Jakarta,Bogor maupun Bekasi, jurusan yang menuju ke Jonggol
Tiket masuk Taman Buah Mekarsari ini sebesar Rp. 10.000 / orang dan tiket untuk mobil sebesar Rp. 5.000 dan sepeda motor sebesar Rp. 3.000. Jadi, dengan biaya yang tidak terlalu mahal, Anda dapat masuk ke taman buah seluas 265 hektar ini.
Taman Wisata Mekarsari saat ini sudah mengkoleksi ribuan tanaman dari beberapa jenis species. Selain buah yang ditanam sesuai dengan aslinya, ada juga tanaman buah yang merupakan hasil kreasi sendiri dari Laboratorium Mekarsari
Banyak aktivitas wisata yang bisa dilakukan di Mekarsari, mulai dari wisata petik buah, wisata mainan anak-anak, outbound sampai wisata pendidikan. Untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut kita bisa memilih paket-paket yang telah disediakan oleh pengelola, seperti paket tur menanam, budidaya tanaman, tur berkebun, paket pelajar, paket perusahaan, perkemahan, outbound, kultur jaringan tanaman, paket hiburan dan masih banyak lagi. Semua paket-paket tersebut sengaja dibuat untuk memudahkan kita melakukan aktivitas selama berada di kebun buah tropis terbesar di dunia ini.

Minggu, 16 Januari 2011

Pelabuhan Ratu,Sukabumi,Jawa Barat


Pantai Pelabuhan Ratu terletak sekitar 60 km ke arah selatan dari Kota SukabumiMasyarakat pantai selatan khususnya Palabuhanratu percaya adanya penguasa laut selatan yaitu Ratu Kidul. Konon, ia adalah seorang ratu yang cantik bagai bidadari. Di Laut Selatan - nama lain dari Samudra Hindia - sebelah selatan Pulau Jawa, ia bertahta pada sebuah kerajaan makhluk halus yang besar dan indah.

Pada bulan April biasanya masyarakat sekitar Palabuhanratu mengadakan ritual upacara adat Hari Nelayan. Hari Nelayan dimaksudkan sebagai syukuran atas rezeki yang telah mereka dapatkan dari hasil laut dan agar dijauhkan dari bencana. Biasanya dalam upacara ini disediakan sesaji berupa kepala kerbau yang nantinya akan dilarung ke tengah laut.
Pantai ini dikenal memiliki ombak yang sangat kuat dan karena itu berbahaya bagi perenang pantai. Topografinya berupa perpaduan antara pantai yang curam dan landai, tebing karang terjal, hempasan ombak, dan hutan cagar alam.
Untuk berkunjung ke Pantai Pelabuhan Ratu, perjalanan dapat menggunakan kendaraan umum (bus) dari Terminal Bogor. Dari terminal ini, pelancong naik bus jurusan Bogor—Sukabumi dengan tarif sekitar Rp 15.000. Kemudian setelah sampai di Terminal Sukabumi, naik bus jurusan Sukabumi—Pelabuhan Ratu dan turun di lokasi
Fasilitas yang terdapat di obyek wisata pantai ini antara lain mushala, area parkir yang cukup luas, taman bermain anak, tempat bersantai, dan beberapa warung makan yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Selain itu, ada juga kios-kios pakaian, suvenir, dan oleh-oleh khas Sukabumi. Bagi wisatawan yang membutuhkan fasilitas penginapan, terdapat berbagai macam losmen dan hotel di kawasan wisata tersebut, mulai dari hotel kelas melati sampai kelas berbintang. Fasilitas pendukung lainnya ialah restoran, penjaga keamanan (SAR), dan peta informasi wisata.

Selasa, 11 Januari 2011

Masjid Luar Batang,Jakarta



Masjid Luar Batang adalah sebuah masjid yang berada di daerah Pasar IkanJakarta Utara. Di masjid ini terdapat makam seorang ulama bernama Alhabib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al 'Aydrus yang meninggal pada tanggal 24 Juni 1756. Nama masjid ini diberikan sesuai dengan julukan Habib Husein,yaitu Habib Luar Batang. Ia dijuluki demikian karena konon dahulu ketika Habib Husein dikuburkan, pada saat digotong ke "kurung batang", tiba-tiba jenazahnya sudah tidak ada. Hal tersebut berlangsung sampai tiga kali. Akhirnya para jama'ah kala itu bermufakat untuk memakamkan beliau di tempatnya sekarang ini. 
Untuk mencapai lokasi Masjid Luar Batang bukanlah perkara mudah. Warga haruslah terlebih dahulu melalui beberapa gang sempit yang ada di kawasan itu. Sebab, keberadaannya saat ini berada di Kampung Luar Batang yang menjorok ke dalam sebuah kampung dan menyatu di tengah-tengah pemukiman warga. Jika diamati dari Jalan Lodan, Masjid Luar Batang berada tepat di belakang Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara.
Sesampainya di Masjid Luar Batang, kita akan disambut dua buah pancuran yang berfungsi sebagai tempat berwudhu berukuran besar dan bermotif unik yang terbuat dari pipa besi. Pipa besi itu tersambung dengan pipa lainnya yang berukuran lebih kecil dan memiliki beberapa kran yang berfungsi mengaliri air sebagai tempat berwudhu.

Masjid Luar Batang, memang telah mengalami perubahan bentuk. Namun makam Habib Husein hingga saat ini terus dipertahankan keasliannya. 
Kini, ruangan masjid terdiri dari tiga ruangan, yakni ruangan utama yang digunakan sebagai tempat shalat. Kemudian ruangan makam atau Keramat Luar Batang yang berada di sisi barat ruang utama dan aula di bagian depan masjid yang bersebelahan dengan ruang keramat atau makam Habib Husein.
Sementara di ruangan makam keramat terdapat dua makan, yakni makam Habib Husein dan makam Haji Abdul Khadir, seorang murid Habib Husein yang merupakan keturunan Tionghoa. 
Setiap harinya makam Keramat Luar Batang tidak pernah sepi dari pengunjung. Terlebih di saat malam Jumat khususnya pada malam Jumat Kliwon atau disaat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di mana pengunjung yang datang bisa mencapai ratusan orang. 

Minggu, 09 Januari 2011

Pantai Carita, Anyer,Banten,Indonesia


Pantai Carita merupakan objek wisata yang terletak di Kabupaten Pandeglang dan telah ditetapkan berdasarkan SK Menteri Pertanian No.440/kpts/UM/1978 pada tanggal 15 Juli 1978 sebagai Taman Wisata Alam.
Pantai Carita mempunyai pesona pasir putih dengan hamparan tepian yang landai dan ombak laut yang kecil dan lembut menyapu di sepanjang pantai, dipadu pemandangan Gunung Krakatau yang kokoh berdiri di kejauhan menjadi suguhan ukiran alam yang indah dipandang mata.
Di sini para wisatawan diberikan kebebasan untuk berenang langsung di pantai, walaupun dibolehkan hanya sampai batas yang telah ditentukan pengelola pantai. Dengan ombak yang kecil, setiap pengunjung dapat berenang dengan aman dan nyaman kendatipun baru pertama kali berenang di pantai

Kawah Putih,Bandung,Jawa Barat,Indonesia



Kawah Putih adalah sebuah danau kawah dari Gunung Patuha dengan ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut dengan suhu antara 8-22°C. Di puncak Gunung Patuha itulah terdapat Kawah Saat, saat berarti surut dalam Bahasa Sunda, yang berada di bagian barat dan di bawahnya Kawah Putih dengan ketinggian 2.194 meter di atas permukaan laut. Kedua kawah itu terbentuk akibat letusan yang terjadi pada sekitar abad X dan XII silam.Kawah Putih ini terletak sekitar 46 km dari Kota Bandung atau 35 km dari ibukota Kabupaten Bandung, Soreang, menuju Ciwidey.
Untuk menuju ke sana, pengunjung dari Jakarta dapat melewati tol Cipularang terus menuju pintu keluar tol Kopo menuju Soreang ke arah selatan ke kota Ciwidey. Sekitar 20 - 30 menit dari kota Ciwidey terlihat tanda masuk menuju gerbang masuk objek wisata Kawah Putih yang ada di sebelah kiri jalan. Untuk menuju Kawah Putih dari gerbang masuk kawasan objek wisata Kawah Putih disarankan menggunakan kendaraan, jangan berjalan kaki karena jalan yang agak menanjak dan cukup jauh, yaitu sekitar 5,6 km atau sekitar 10 - 15 menit dengan kendaraan. Kendaraan pribadi dapat langsung menuju tempat parkir luas yang tersedia tidak jauh dari kawah. Sementara pengunjung dengan rombongan besar yang menggunakan bis, atau transportasi umum dapat menggunakan kendaraan khusus yang ada di areal parkir dekat gerbang masuk untuk mencapai kawah dari pintu masuk. Kondisi jalan yang kecil dan menanjak tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan jenis bis besar maupun sedang.

Kamis, 23 Desember 2010

Pulau Pramuka,Kepulauan Seribu,Jakarta



Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau yang berada pada gugusan Kepulauan Seribu. Pulau ini merupakan pusat administrasi dan pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Pulau Pramuka termasuk ke dalam Kelurahan Pulau Panggang.
Di pulau ini terdapat sarana pelestarian penyu sisik yang saat ini jumlahnya sudah sedikit sehingga dilindungi. Masyarakat yang mendiami Pulau Pramuka sebagian besar berasal dari BugisTangerang dan Jakarta. Tata tempat tinggal dan sanitasi Pulau Pramuka cukup baik, sedangkan dalam bidang pendidikan sudah terdapat sekolah dari SD hingga SMA. Sarana pra sarana cukup memadai mulai dari masjidrumah sakitsekolahdermaga, TPI (Tempat Pelelangan Ikan), villa dan penginapan bagi pengunjung wisata.

Taman Makam Pahlawan Kalibata


Taman Makam Pahlawan Kalibata atau TMP Kalibata adalah nama sebuah pekuburan yang berlokasi di wilayah KalibataJakarta Selatan, dan dikhususkan bagi mereka yang telah berjasa kepada negara kesatuan Republik Indonesia, termasuk para pahlawan nasional, anggota militer, dan pejabat tinggi negara.
Pembangunan awal TMP Kalibata dimulai pada tahun 1953. Pembangunan awal ini diserahkan kepada Zeni Angkatan Darat dengan kontraktor Biro AIA bekerja sama dengan Dinas Bangunan Tentara Sub Direktorium dan arsitek F. Silaban. TMP Kalibata diresmikan oleh Presiden RI Ir. Soekarno bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November 1954. Pada saat awal peresmian tersebut, di TMP Kalibata telah dimakamkan 121 Pahlawan/Pejuang yang merupakan pindahan kerangka jenasah dari TMP Ancol yang keseluruhannya berada di Petak A. Selanjutnya pemakaman pertama di TMP Kalibata adalah jenasah H. Agus Salim yang dilaksanakan pada tanggal 5 Nopember 1945 diPetak A nomor 106
Ditinjau dari segi luas dan kelengkapannya, TMP Kalibata belum mencerminkan sebagaiTMP Nasional. Oleh karena itu, atas persetujuan Presiden RI Soeharto pada tahun 1973, TMP Kalibata diperluas menjadi 25 Ha. Selanjutnya pada tahun 1974 dimulai pembangunan TMP Kalibata sesuai dengan rencana induk (master plan) TMP Nasional yang dirancang oleh tim Atelir. Bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 1974, Presiden Soeharto meresmikan Monumen TMP Kalibata. Kemudian pembangunan TMP Kalibata terus berlanjut dan bertahap sampai dengan tahun 1976. Melalui Keputusan Presiden RI no. 18/1976 tanggal 6 April 1976, TMP Kalibata ditetapkan sebagai Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN).

Kebon Raya Bogor

Kebun Raya Bogor didirikan pada tahun 1817 dengan luas areal 87 Ha atas prakarsa Prof. Dr. Reinwadt, seorang ahli botani dari Jerman. Koleksi di Kebun Raya Bogor terdiri dari tanaman tropis dengan jenis tanaman lebih dari 20.000 tanaman yang tergolong dalam 6.000 spesies. Berlokasi di Jl. Ir. H. Juanda No. 13 Telp. (0251) 311362.
Di dalam kebun ini terdapat bunga raksasa atau bunga bangkai (amorphophalus Titanum Beccari), yang ditanam pada tahun 1912 sebanyak 11 pohon, berasal dari hutan Sumatera, dan ditemuka oleh ahli botani dari Itali, bernama Beccari. Bunga ini mempunyai garis tengah 54 cm dan tingginya 2,5 meter, dan berwarna ungu dan kuning. Kebun ini juga berfungsi sebagai tempat pariwisata dan rekreasi terutama banyak dikunjungi pada hari-hari besar dan libur. Di halaman kebun ini juga terdapat makam istri Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jendral Inggris di Pulau Jawa yang bertugas dari tahun 1811 hingga 1816, dan pernah tinggal di Istana Bogor.

Cara Mencapai Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor terletak ditengah Kota Bogor yang ramai, sehingga tidak sulit untuk menemukannya.
Dari Jakarta (± 63 km menuju Kebun Raya Bogor) :
-Dengan bis menuju Terminal Baranangsiang-Bogor, dilanjutkan dengan naik Angkot menuju Kebun Raya Bogor dan turun di pintu Kebun Raya Bogor dekat IPB.
-Dengan kereta ke Stasiun Bogor, dilanjutkan dengan naik Angkot jurusan Merdeka-Sukasari menuju Kebun Raya Bogor dan turun dipintu 1 dekat Pasar Bogor.

Waktu Kunjungan Ke Kebun Raya Bogor
Mulai buka dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore.
Pintu gerbang utama berada disebelah selatan, pintu-pintu yang lainnya hanya dibuka pada hari minggu dan hari libur.
Pada hari minggu, hari libur dan liburan panjang, Kebun Raya Bogor padat pengunjung.


Minggu, 25 Juli 2010

Planetarium,Jakarta,Indonesia

Planetarium Jakarta dibangun oleh Pemerintah Indonesia mulai tahun 1964 atas gagasan Presiden Soekarno. Pada waktu itu Presiden sangat mengharapkan rakyat Jakarta pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya sedikit demi sedikit akan meningkat pengetahuannya mengenai benda-benda langit, gerhana, tata surya, galaksi dan sebagainya.
Dalam tahun 1968 gedung planetarium dan pemasangan peralatan didalamnya berhasil diselesaikan dan pada tanggal 10 Nopember 1968 tahun itu pula gedung Planetarium diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin bersamaan dengan diresmikannya PKJ-Taman Ismail Marzuki. Kemudian pada tanggal 1 Maret tahun berikutnya Planetarium resmi dibuka untuk umum dan sejak itu masyarakat ibukota merasa memiliki satu-satunya sarana penambah pengetahuan dan relaksasi yang khas itu.
Planetarium adalah gedung teater untuk memperagakan simulasi susunan bintang dan benda-benda langit. Atap gedung biasanya berbentuk kubah setengah lingkaran. Di planetarium, penonton bisa belajar mengenai pergerakan benda-benda langit di malam hari dari berbagai tempat di bumi dan sejarah alam semesta. Planetarium berbeda dari observatorium. Kubah planetarium tidak bisa dibuka untuk meneropong bintang. Di dalam ruang pertunjukan terdapat sumber gambar berupa proyektor planetarium yang umumnya diletakkan di tengah ruangan. Proyektor dapat memperagakan pergerakan benda-benda langit sesuai dengan waktu dan lokasi.
Pertunjukan berlangsung dengan narasi yang diiringi musik. Kursi memiliki sandaran bisa direbahkan agar penonton bisa melihat ke layar di bagian dalam langit-langit kubah. Layar berbentuk setengah bola, dan biasanya disusun dari panel aluminum. Materi pertunjukan bisa berbeda-beda bergantung kepada judul pertunjukan dan jadwal.




Museum Bahari,Jakarta,Indonesia

Di ujung Utara Ibukota Jakarta, tepatnya pada kawasan kuno pelabuhan Sunda Kelapa, berdirilah Museum Maritim (Museum Bahari) yang memamerkan berbagai benda peninggalan VOC  Belanda pada zaman dahulu dalam bentuk model atau replica kecil, photo, lukisan serta berbagai model perahu tradisional, perahu asli, alat navigasi, kepelabuhan serta benda lainnya yang berhubungan dengan kebaharian Indonesia.
Bangunan berlantai tiga itu didirikan tahun 1652 oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda di Batavia. Tepatnya di jalan Pasar Ikan Jakarta Utara, menghadap Teluk Jakarta. Disebelah kanan tak jauh dari gudang induk dibangun menara. Sekarang dikenal dengan nama Menara Syahbandar  dibangun tahun 1839 untuk proses administrasi keluar masuknya kapal  sekaligus sebagai pusat pengawasan lautan dan daratan sekitar.
Museum ini mencoba menggambarkan kepada para pengunjungnya mengenai tradisi melaut nenek moyang Bangsa Indonesia dan juga pentingnya laut bagi perekonomian Bangsa Indonesia dari dulu hingga kini.
Museum Bahari menyimpan 126 koleki benda-benda sejarah kelautan. Terutama kapal dan perahu-perahu niaga tradisional. Di antara puluhan miniatur yang dipajang  terdapat 19 koleksi perahu asli dan  107 buah miniatur, foto-foto dan biota laut lainnya.  

Adalah bekas gudang rempah-rempah VOC Belanda, terletak di tepi Teluk Jakarta yang indah. Dahulu kala tempat itu menjadi pusat perniagaan  penting. Begitu sibuknya sehingga perlu penjagaan ketat, Kapal-kapal besar dan kecil hilir-mudik mengangkut  rempah-rempah, berupa cengkeh, buah pala, lada, kayu manis, kayu putih, tembakau, kopra, daun teh, biji kopi dan lain-lain diangkut ke Eropa dan beberapa negara lain di dunia.

Museum ini juga memiliki berbagai model kapal penangkap ikan dari berbagai pelosok Indonesia termasuk juga jangkar batu dari beberapa tempat, mesin uap modern dan juga kapal Pinisi (kapal phinisi Nusantara) dari suku Bugis (Sulawesi Selatan) yang kini menjadi salah satu kapal layar terkenal di dunia.

Berlokasi di Jl. Pasar Ikan no 1. Jakarta Utara, Telepon: 6693406

Sabtu, 17 Juli 2010

Masjid Kebon Jeruk,Jakarta,Indonesia


Masjid Kebon Jeruk
Letak masjid ini persis di sisi jalan Hayam Wuruk. Suatu pusat kawasan pecinan di Jakarta yang begitu ramai.
Menurut sejarahnya, masjid ini dibangun pada tahun 1718 M oleh seorang cina muslim yang hijrah dari Negeri Cina. Namanya Chau Tsien Hwu. Ia bersama isterinya, Fatima Hwu, dan rombongan muhajirin lainnya membangun dan mengelola masjid ini.
Chau sebenarnya tidak membangun masjid baru. Ia hanya meneruskan sebuah bangunan mushollah kecil yang memang sudah berdiri di situ sejak lama. Sayangnya mushollah kecil itu sudah tidak terawat. Bangunan mushollah ini bundar, beratap daun nipah, bertiang empat, dan masing-masing tiang dipenuhi ukiran.
Chau Tsien Hwu berserta isteri dan rombongan umat Islam Tionghoa lainnya datang ke Kebon Jeruk setelah terdesak oleh penguasa Dinasti Chien yang menganut agama Budha.
Masjid ini selalu di padati oleh jamaah dari berbagai daerah, bahkan muslim dari berbagai negara pun mudah kita jumpai di sini. Mereka rata-rata berjenggot, mengenakan baju koko, surban atau peci putih, dan celana mereka tidak ada yang menutupi mata kaki. Banyak juga yang memakai baju panjang sampai ke lutut, tasbih yang selalu berputar di tangan dan aroma minyak cendana dan kasturi, begitu kuat menyebar keseluruh ruangan. Dari cara mereka berpakaian nampak sekali bahwa mereka meneladani cara-cara (sunah) Nabi, belum lagi ikatan persaudaraan mereka yang begitu kuat menandakan mereka adalah umat yang taat kepada ajaran Rasulnya. Padahal, kemungkinan besar diantara mereka belum ada yang saling kenal. Jemaah di Masjid Kebun Jeruk ini di kenal dengan sebutan jamaah tabligh, mereka selalu rutin dan khusuk mendengarkan ceramah setiap habis shalat maghrib. Jemaah terdiri dari berbagai profesi, seperti pimpinan pondok pesantren, bupati, pedagang kaki lima, pengusaha muda, mantan preman, mahasiswa hingga artis pun ada yang menjadi jamaah di sini. Gito rollies misalnya, semasa hidup sering terlihat mengikuti kegiatan di masjid ini.
Jamaah di Masjid Kebon Jeruk ini selalu bertambah dari tahun-ketahun “Di sini gudangnya ilmu, jangan heran kalau semakin banyak yang datang ke sini. Kadang-kadang sampai tidak muat, tapi masjid ini ngga boleh dibangun lagi karena masjid tua, paling cuma perbaikan aja,” kata Ayatullah, pulang sebulan sekali untuk menengok istri dan ketiga anaknya di kampung. Gaya bangunan Masjid Kebon Jeruk ini mempunyai kemiripan dengan masjid-masjid yang ada di Jawa. Namun sentuhan gaya arsitektur china terlihat dari benda-benda peninggalan, seperti kalender antik dan sebuah makam di halaman masjid dengan batu nisan bergaya china bertulisan Hsienpi Men Tsu Mow yang artinya “inilah makam China dari keluarga Chai”. Masjid ini menjadi suatu bukti terjadinya asimilasi kebudayaan yang tetap terjaga.

Masjid Luar Batang,Jakarta,Indonesia


Masjid Luar Batang
Didirikan oleh seorang mujahid muda Islam yang hijrah dari Hadhramaut, Yaman Selatan sekitar tahun 1716-1756 M. Beliau adalah Habib Husein bin Abu Bakar Al-Idrus.
Ketika tiba di daerah Luar Batang yang kala itu masih rawa-rawa, Habib Husein mendirikan surau atau musholah. Tempat ini ia maksudkan agar bisa menjadi tempat ibadah, dan sekaligus dakwah.
Suatu malam, Habib Husein dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang basah kuyup. Ternyata, ia seorang Tionghoa yang sedang dalam pengejaran tentara VOC. Habib pun menampung orang ini dalam musholahnya.
Siangnya, tentara VOC mendatangi musholah tersebut untuk menangkap sang pelarian. Tapi, Habib Husein mencegah. “Aku akan melindungi tawanan ini dan akulah sebagai jaminannya," tegas Habib begitu lantang.
Mendapati ketegasan dari seorang yang berpengaruh di daerah itu, tentara VOC pun mengalah. Haru dengan pembelaan Habib Husein, sang pelarian yang non muslim pun akhirnya masuk Islam. Dan ia menjadi pembantu Habib dalam menyiarkan agama Islam di daerah itu.
Suatu hari, pada tanggal 17 Ramadhan tahun 1169 Hijriah, bertepatan dengan 27 Juni 1756 M, Allah swt. memanggil Habib Husein dalam usia kurang lebih 30-40 tahun.
Ketika itu, Belanda melarang keras para pendatang dimakamkan di daerah itu. Mereka harus dimakamkan di Tanahabang. Konon, sudah tiga kali warga yang mengusung kurung batang Habib Husein ke Tanahabang selalu mendapatinya kosong, dan tiga kali itu juga jenazah Habib berada di musholah itu.
Akhirnya, Belanda lagi-lagi mengalah. Dan membolehkan Habib Husein dimakamkan di kawasan musholah tersebut. Sejak itulah, tempat itu dinamakan musholah luar batang, yang kemudian dipugar menjadi Masjid Luar Batang.
Daerah Luar Batang artinya daerah di luar batang besar (groote boom) yang menutup pelabuhan pada malam hari, merupakan tanah endapan dan ukuran yang semakin menjorok keutara. Pada peta-peta Batavia lama. daerah disebelah utara tembok kota dan kali yang menghubungkan kali besar dan Muara Baru, terbentuk perlahan-lahan antara taun 1650 dan 1700. Sejak awal tahun 1730-an daerah ini sangat tidak sehat, karena nyamuk yang berkembang biak dalam tambak ikan di pantai utara, menyebarkan malaria.
Pada tahun 1916 telah dicatat diatas pintu masjid, bahwa gedung ini selesai dibangun pada 20Muharam 1152 H yang sama dengan 29 April 1739*** Qiblat masjid ini kurang tepat dan ditentukan lebih persis oleh Muh. Arshad al-Banjari (w. 1812) waktu singgah perjalanan pulang dari Hejaz ke Banjar pada tahun 1827. Masjid ini kurang berkiblat, sama seperti Masjid Kebon Sirih dan Cikini. Oleh karena itu, ada penulis (mis. Abubakar Atjeh) yang beanggapan, bahwa semula ruang masjid ini adalah bekas rumah kediaman orang, yang kemudian digunakan sebagai mushola atau masjid.
Pada sebuah batu dalam Masjid Luar Batang ditulis, bahwa 'al Habib Husein bin Abubakar Bin Abdillah al-Alaydrus yang telah wafat pada hari kamis 27 Puasa 1169 berkebetulan 24 Juni 1756. Batu ini dibuat antara tahun 1886 dan 1916. sebab, L.W.C, Van Berg dalam buku yang termasyur tentang orang Hadhramaut, menyebut, bahwa Habib Husein baru wafat 1798 (!). sedangkan Ronkel sudah menyebut batu peringatan tersebut dalam karangannya yang diterbitkan pada tahun 1916.*

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani,Jakarta,Indonesia

Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jend. A. Yani Jl. Lembang No. D. 58 Menteng Jakarta Pusat
Gedung ini semula kediaman, Pahlawan Revolusi Jenderal A. Yani diabadikan sebagai Sasmitaloka dengan tujuan disamping sebagai tempat mengenang seorang prajurit TNI AD yang berjasa terhadap Nusa dan bangsa Indonesia juga sebagai sarana informasi kepada generasi muda khususnya prajurit TNI AD untuk senantiasa waspada dan siaga akan bahaya paham komunis / PKI. Di ruangan Sasmitaloka ini disajikan berbagai benda bersejarah peninggalan Almarhum Pahlawan Revolusi Jenderal A. Yani ditata seperti keadaan semula sewaktu masih ditempati beliau dan keluarga. Dan terlihat kaca yang ditembus peluru percikan darah yang sudah mengering dan bukti-bukti lain akan kebiadaban G 30 S/ PKI. 
Dalam peristiwa yang terjadi pukul 04.30 dini hari, pada tanggal 1 Oktober 1965 lalu, para pemberontak menyerang dan menembaki secara membabi buta dari pintu belakang rumah dengan terlebih dahulu melumpuhkan para penjaga rumah. Serangan tersebut menyebabkan pintu, lukisan dan lemari tertembus peluru.Menurut Perwira Seksi dari Dinas Pembinaan Mental TNI AD, Kapten TNI Ade Abdul Wahid, rumah milik Ahmad Yani ini diserahkan pihak keluarga kepada pemerintah, tepat setahun setelah peristiwa G 30 S PKI.Bangunan ini kini sudah menjadi Museum Sasmitaloka. Disini terdapat pula semua barang-barang milik keluarga almarhum Ahmad Yani yang masih utuh, seperti baju-baju, bintang jasa serta sejumlah uang gaji terakhir sebesar 123 ribu rupiah. Saat Jenderal Ahmad Yani menjabat sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat.
Museum Sasmitaloka ini terbuka untuk umum dan pengunjung bisa masuk ke dalamnya secara gratis.


Jumat, 16 Juli 2010

Museum Filatelis,Taman Mini Indonesia Indah,Jakarta,Indonesia

Terletak di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, berdiri di atas tanah seluas 9.500 meter persegi. Bangunan museum ini diapit oleh dua bangunan pendukung. Bangunan pada satu sisi berfungsi sebagai tempat penerimaan dan peristirahatan, bangunan pada sisi lain berfungsi sebagai kantor pos.
Museum yang diresmikan pada tanggal 29 September 1983 merupakan gagasan Ibu Tien Soeharto (Ibu Negara). Dibangun sebagai sarana edukasi yang mampu merefleksikan sejarah bangsa dan keelokan budaya Indonesia.
Pada pelataran dalam terdapat tugu berbentuk bola dunia dengan seekor burung merpati yang bertengger di atasnya dengan membaca sepucuk surat yang melambangkan visi dan misi PT Pos Indonesia.
Memasuki gedung Museum Prangko Indonesia, di tengah-tengah ruangan pameran terdapat bangunan berbentuk segi delapan. Di atas bangunan tersebut terdapat ROSET mengambil bentuk dasar matahari dengan cahayanya menyinari ke delapan arah.
Sebuah patung Hanoman diletakkan di tengah-tengah bangunan pendopo. Dalam pewayangan, Hanoman sebagai Dhuta Dharma pembawa berita yang misinya sama dengan Pos Indonesia.
 Ketika prangko belum ada, biaya pengiriman surat ditanggung oleh si penerima. Kemudian cara ini dihentikan karena orang yang dikirimi surat menolak untuk membayar. Dari situlah muncullah Prangko Pertama yang bernama ‘The Penny Black’, bergambar wajah Ratu Victoria. Prangko ini dibuat oleh seorang pekerja Dinas Perpajakan Inggris bernama Sir Rowland Hill, yang terbit perdana pada tahun 1840 di Inggris.
Foto prangko ‘The Penny Black’ ini dapat dijumpai di Museum Prangko Indonesia bersama dengan beribu koleksi prangko lainnya serta diorama yang menceritakan tentang aktivitas perjalanan penerbitan dan pencetakan prangko.
Salah seorang negarawan besar, mantan Presiden Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt, mengucapkan, ‘Stamp collecting makes for better citizens. I owe my life to my hobbies, especially stamp collecting.’ Demikianlah yang dialami dalam kesehariannya, setiap habis bekerja berat beliau tidak langsung beristirahat akan tetapi beliau memiliki kebiasaan untuk melihat koleksi prangkonya. Dengan menikmati prangko, beliau mampu melenyapkan kejenuhan dan ketegangan dalam menghadapi tugas kesehariannya sebagai seorang Kepala Negara.
Serunya beragam cerita yang ditampilkan dalam sebuah prangko di Museum Prangko Indonesia ini, rasanya tak lengkap bila kita tak menyimak sebuah kisah tentang Surat Daun Lontar. Kisahnya dimulai ketika Semar kabur karena akan dijadikan tumbal, kemudian ia bertapa untuk memperoleh kesaktian. Mengapa ia dijadikan tumbal dan bagaimana kisah akhirnya, selengkapnya dapat kita nikmati namun bukanlah pada sebuah prangko, tetapi pada sebuah lukisan indah yang terpampang di salah satu dinding Museum Prangko Indonesia. Selamat menikmati keragaman koleksi prangko dan keindahan Museum Prangko Indonesia!

Pelabuhan Sunda kelapa,Jakarta,Indonesia

Sunda Kelapa adalah nama sebuah pelabuhan dan tempat sekitarnya di Jakarta, Indonesia. Pelabuhan ini terletak di kelurahan Penjaringan, kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Meskipun sekarang Sunda Kelapa hanyalah nama salah satu pelabuhan di Jakarta, daerah ini sangat penting karena desa di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal-bakal kota Jakarta yang hari jadinya ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1527. Kala itu Sunda Kelapa merupakan pelabuhan Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang kota Bogor) yang direbut oleh pasukan Demak dan Cirebon. Walaupun hari jadi kota Jakarta baru ditetapkan pada abad ke-16, sejarah Sunda Kelapa sudah dimulai jauh lebih awal, yaitu pada zaman pendahulu Kerajaan Sunda, yaitu kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Tarumanagara pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kelapa menggunakan bahasa Malayu yang umum di Sumatera, yang kemudian dijadikan bahasa nasional, jauh sebelum peristiwa Sumpah Pemuda.

Pelabuhan Sunda Kelapa telah dikenal semenjak abad ke-12 dan kala itu merupakan pelabuhan terpenting Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran. Kemudian pada masa masuknya Islam dan para penjelajah Eropa, Sunda Kelapa diperebutkan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa. Akhirnya Belanda berhasil menguasainya cukup lama sampai lebih dari 300 tahun. Para penakluk ini mengganti nama-nama pelabuhan Sunda Kelapa dan daerah sekitarnya. Namun pada awal tahun 1970-an, nama kuno "Sunda Kelapa" kembali digunakan sebagai nama resmi pelabuhan tua ini.
Saat ini lokasi Pelabuhan Sunda Kelapa telah berkembang pesat menjadi pusat perkantoran, perdagangan, perindustrian, dan perhotelan. Sebagai pelabuhan tertua di wilayah DKI Jakarta yang masih mempertahankan ciri khas ate tradisionalnya, Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi suatu obyek wisata terkemuka.

Pelabuhan ini terutama disinggahi kapal-kapal antarpulau dan pelayaran rakyat dengan komoditas utama kayu, bahan kebutuhan pokok, barang kelontong, dan bahan bangunan.

Taman Burung Taman Mini Indonesia

Awalnya Taman Burung hanya memiliki satu kubah yang dibangun tahun 1975 dan diresmikan tanggal 19 Agustus 1976, namun kemudian dikembangkan menjadi sembilan kubah dan diresmikan pada tanggal 27 April 1987. Taman Burung terletak di bagian belakang kawasan TMII berdekatan dengan Pusat Peragaan IPTEK, menempati lahan seluas 6 hektar termasuk fasilitas umum berupa tempat parkir yang cukup luas dan rindang.
Taman Burung berfungsi juga sebagai loka-bina masyarakat perburungan, sehingga taman ini sering dijadikan ajang lomba burung, lomba bagi anak-anak dan siswa untuk mengenal lebih dalam mengenai burung, serta tempat penelitian bagi para mahasiswa. Dari segi penangkaran dan pelestarian, taman ini telah berhasil mengembangbiakkan lebih dari 100 jenis, di antaranya sekitar 30 jenis merupakan jenis-jenis yang dilindungi dan langka. Untuk menjaga kesehatan hewan koleksi, taman dilengkapi sarana karantina sebagai tempat memisahkan burung-burung yang sakit untuk mendapatkan perawatan.
Koleksi burung yang ada di sini merupakan yang terlengkap di Indonesia, terdiri atas 312 jenis dengan jumlah mencapai ribuan ekor, baik yang berasal dari Indonesia Bagian Barat maupun Indonesia Bagian Timur, di samping sebagian dari mancanegara. Elang Jawa, Elang Bondol, Cendrawasih, Jalak Bali, Maleo, Rangkong, Beo, Burung Onta, dan Onagadori merupakan beberapa koleksi yang menarik.

Kamis, 01 Juli 2010

Ondel Ondel,Jakarta,Indonesia



Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.
Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar ± 2,5 m dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambuyang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalarnnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki di cat dengan warna merah, sedang yang perempuan dicat dengan warna putih. Bentuk pertunjukan ini banyak persamaannya dengan yang terdapat di beberapa daerah lain.
Pembuatan ondel-ondel dilakukan secara tertibbaik waktu membentuk kedoknya demikian pula pada waktu menganyam badannya dengan bahan bambu. Sebelum pekerjaan dimulaibiasanyadisediakan sesajen yang antara lain berisi bubur merah putihrujak-rujakan tujuh rupabunga-bungaan tujuh macam dan sebagainyadisamping sudah pasti di bakari kemenyanDemikian pulaondel-ondel yang sudah jadibiasa pula disediakan sesajen dan dibakari kemenyandisertai mantera-mantera ditujukan kepada roh halus yang dianggap menunggui ondel-ondel tersebut.Sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpananbila akan berangkat main, senantias diadakan sesajenPembakaran kemenyan dilakukan oleh pimpinan rombonganatau salah seorang yangdituakan. Menurut istilah setempat upacara demikian disebut “Ukup” atau “ngukup”.